Hari Kebangkitan Nasional 2026: ASAS Berbeda! Tanpa HP, Siswa Lebih Fokus dan Serius Menghadapi Ujian
Oleh: Elcha Bagus Narendra Putra
Momentum Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kualitas masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini.
Dengan tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga fokus, bertanggung jawab, kompeten, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun perkembangan zaman.
Sebagai bentuk nyata dari semangat tersebut, sekolah melaksanakan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) dan Competency Level Test (CLT) yang berlangsung mulai tanggal 20 Mei hingga 5 Juni 2026.
Pelaksanaan kegiatan ini bukan sekadar agenda evaluasi rutin, tetapi menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membangun budaya belajar dan sistem evaluasi yang lebih berkualitas.
ASAS tahun ini hadir dengan pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya ujian banyak menggunakan perangkat HP melalui sistem digital, kini sekolah menerapkan sistem Paper Based Test (PBT) atau ujian berbasis kertas.
Kebijakan tersebut bukan berarti menolak perkembangan teknologi, melainkan bagian dari upaya membangun kembali fokus, keseriusan, dan keterlibatan siswa dalam proses ujian.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan perangkat digital dalam pembelajaran memang memberikan banyak kemudahan. Sistem digital mampu membantu efisiensi administrasi, mempercepat pengolahan nilai, dan mempermudah distribusi soal.
Namun di sisi lain, penggunaan HP dalam proses ujian juga memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait fokus dan konsentrasi siswa.
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang terlalu intens dapat memengaruhi kualitas perhatian dan performa akademik siswa akibat tingginya distraksi digital.
Penelitian Gerosa, Gui, dan Büchi (2021) menjelaskan bahwa intensitas penggunaan smartphone memiliki hubungan terhadap menurunnya fokus akademik siswa karena tingginya gangguan perhatian (attention distraction). Sementara itu, penelitian Johannes dkk. (2021) dalam Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang tidak terkontrol dapat memengaruhi self-control siswa dan berdampak terhadap kualitas belajar.
Selain itu, penelitian Pérez-Juárez dkk. (2024) mengenai digital distraction dalam pendidikan juga menunjukkan bahwa siswa sendiri menyadari perangkat digital sering menjadi sumber gangguan utama dalam aktivitas belajar.
Melalui sistem Paper Based Test (PBT), siswa didorong untuk:
lebih fokus membaca soal,
lebih teliti dalam menjawab,
mengelola waktu dengan lebih baik,
serta lebih memahami bahwa ujian merupakan bagian penting dari proses belajar.
Paper test juga membuat siswa lebih sadar terhadap proses pengerjaan soal karena interaksi berlangsung langsung dengan lembar ujian tanpa distraksi digital.
Di sisi lain, sekolah juga melaksanakan Competency Level Test (CLT) sebagai bentuk evaluasi keterampilan dan kompetensi siswa sesuai konsentrasi keahlian masing-masing.
Sebagai sekolah vokasi, SMK tidak cukup hanya mengukur kemampuan teori, tetapi juga harus memastikan bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan dalam praktik nyata sesuai standar dunia kerja dan industri.
Melalui CLT, siswa diuji dari aspek:
keterampilan kerja,
ketepatan prosedur,
kemampuan menyelesaikan pekerjaan,
problem solving,
hingga kesiapan menghadapi tantangan dunia industri.
Tidak hanya pengetahuan maupun keterampilan yang perlu diuji secara terpisah, tetapi keduanya harus berjalan beriringan sebagai bagian dari pembentukan kompetensi siswa SMK secara utuh.
Karena itu:
Paper Based Test (PBT) digunakan untuk mengukur pemahaman konsep, logika berpikir, ketelitian, dan keseriusan akademik siswa,
sementara Competency Level Test (CLT) digunakan untuk mengukur kemampuan praktik, keterampilan kerja, dan kesiapan kompetensi kejuruan.
Kedua bentuk evaluasi tersebut saling melengkapi.
Siswa tidak cukup hanya mampu memahami teori, tetapi juga harus mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik nyata sesuai bidang keahlian masing-masing.
Ke depan, sekolah juga memandang bahwa bentuk evaluasi seperti tes lisan (oral assessment) menarik untuk mulai dikembangkan sebagai bagian dari inovasi sistem evaluasi pembelajaran.
Tes lisan dapat menjadi sarana untuk:
melatih kemampuan komunikasi siswa,
mengukur pemahaman secara langsung,
meningkatkan kepercayaan diri,
serta membangun kemampuan berpikir kritis dan spontanitas siswa.
Dalam dunia kerja modern, kemampuan menjelaskan ide, menyampaikan solusi, dan berkomunikasi profesional menjadi kompetensi yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Oleh sebab itu, evaluasi pembelajaran di masa depan tidak hanya berfokus pada hasil tulisan maupun praktik kerja, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam menyampaikan pemahaman dan gagasannya secara langsung.
Melalui ASAS dan Competency Level Test tahun 2026, sekolah ingin menegaskan bahwa kebangkitan bangsa dimulai dari kualitas generasi mudanya.
Karena menjaga tunas bangsa tidak cukup hanya melalui slogan, tetapi harus diwujudkan melalui sistem pendidikan yang serius, terukur, adaptif, dan berorientasi pada mutu pendidikan. 🇮🇩
Referensi
Gerosa, T., Gui, M., & Büchi, M. (2021). Smartphone Use and Academic Performance: A Pervasiveness Approach Beyond Addiction. Social Science Computer Review.
Johannes, N., et al. (2021). How Students’ Self-Control and Smartphone-Use Explain Their Academic Performance. Computers in Human Behavior.
Pérez-Juárez, M. A., et al. (2024). Digital Distractions from the Point of View of Higher Education Students.
Khan, M. A., & Fareed, M. (2021). Paper Based Test Versus Computer Based Test: The Impact on Reading Performance. VFAST Transactions on Education and Social Sciences.
Agostini, D., & Petrucco, C. (2023). Problematic Smartphone Use and University Students’ Academic Performance. Journal of e-Learning and Knowledge Society.
